Jumat, 29 Mei 2015

Makalah Disleksia Disgrafia



MAKALAH
“DISLEKSIA DAN DISGRAFIA”
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
Dosen Pengampu : Brigitta Erlita Tri Anggadewi M.Psi.

Disusun Oleh :
1.              Yohana Rina Kurniasari          (131134015)
2.              Yunita Cahyarini                     (131134165)
3.              L. Desy Nakaryaswari            (131134222)
4.              Nurmitasari                             (131134235)
4A


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH  DASAR
JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN  DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap anak memiliki hak yang sama dalam hal pendidikan dan dalam memperoleh pengetahuan. Setiap anak berhak untuk menjadi pintar, tidak peduli apakah anak tersebut mengalami gangguan atau tidak. Dewasa ini banyak gangguan yang dialami oleh anak-anak, antara lain adalah disleksia dan disgrafia. Disleksia adalah kondisi ketika perbedaan kerja otak yang membuat seorang individu dengan disleksia memproses informasi yang ditrerima dari otak dengan cara yang berbeda. Sedangkan, disgrafia adalah gangguan menulis.
Sebagai guru, tujuan utama kita adalah memastikan, anak yang mengalami gangguan disgrafia dan disleksia tidak dirugikan dalam lingkungan belajarnya, bila dibandingkan dengan teman sebayanya, akibat kekurangannya tersebut. Guna mendorong kepercayaan dirinya, penting untuk mempertimbangkan berbagai prosedur pengajaran menulis dan membaca yang bervariasi. Harus diingat bahwa anak disleksia dan disgrafia sangatlah unik, sehingga satu pendekatan bisa saja hanya berlaku bagi satu anak, bukan pendekatan ‘satu untuk semua’ dan pendekatan mengajar yang berbeda mungkin dibutuhkan anak dengan gangguan disleksia dan disgrafia.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa definisi dari disleksia dan disgrafia?
2.      Apa karakteristik disleksia dan disgrafia?
3.      Apa saja tipe dari disleksia?
4.      Apa faktor penyebab disleksia dan disgrafia?
5.      Bagaimana pendampingan untuk anak disleksia dan disgrafia?


C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi dari disleksia dan disgrafia.
2.      Untuk mengetahui karakteristik disleksia dan disgrafia.
3.      Untuk mengetahui tipe disleksia dan disgrafia.
4.      Untuk mengetahui faktor penyebab disleksia.
5.      Untuk mengetahui pendampingan anak disleksia dan disgrafia.



A.    DEFINISI DISLEKSIA
Istilah disleksia berasal dari bahasa Yunani yang secara harafiah berarti kesulitan dengan (dys) kata-kata (lexis). Disleksia merupakan salah satu disabilitas, dan tidaklah mengejutkan jika hal itu dianggap sebagai sesuatu yang kontoversial. Karena secara alami cara seseorang memperoleh kemampuan aksara sangatlah kompleks. Ada banyak alasan mengapa seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Namun, tidak semua individu tersebut tergolong ‘disleksia’.
Disleksia adalah kondisi ketika perbedaan kerja otak yang membuat seorang individu dengan disleksia memproses informasi yang diterima dari otak dengan cara yang berbeda. Akibatnya, orang dengan disleksia mengalami kesulitan memproses informasi. Perbedaan tersebut membuat dirinya harus berusaha lebih keras dalam mengerjakan tugas seperti membaca dan menulis, yang mengakibatkan disabilitas pada area tersebut. Maka dengan kata lain, disleksia merupakan gangguan membaca dan mengeja. Anak-anak yang tidak mengalami disleksia mengembangkan bahasa ketika mereka mengembangkan kemampuan kognitif lainnya, dengan secara aktif mencoba mengerti apa yang mereka dengar, melihat pola-pola, dan membuat aturan untuk menyatukan potongan-potongan bahasa yang rumit. Namun, hal ini tidak berlaku pada anak disleksia. Gangguan disleksia tidak akan berdiri sendiri, karena adanya disleksia juga akan memengaruhi keterampilan lainnya, seperti gangguang menulis (disgrafia), dan gangguan berhitung (diskalkulia).

B.     KARAKTERISTIK ATAU CIRI-CIRI DISLEKSIA
            Hal yang paling umum mengenai karakteristik disleksia pada seorang anak adalah memiliki masalah dalam perkermbangan fonologi, proses visual, kerja memori, dan kecepatan memproses informasi.
a.      Perilaku
·      Melamun atau tenggelam dalam dunianya sendiri, mudah lupa, terutama untuk hal-hal yang baru terjadi, tetapi memiliki ingatan yang baik untuk hal-hal yang sudah lama berselang.
·      Sulit menghadap lebih dar satu instruksi pada saat yang bersamaan
·      Suasana hati yang ekstrem, kurang ketenangan
·      Bisa menjdai sangat keras kepala
·      Tidak suka perubahan
·      Suka meluapkan kemarahan
·      Mudah teralihkan perhatiannya
·      Sensitif terhadap keributan
·      Tampak tidak mendengarkan apa yang dikatakan orang lain
·      Kemungkinan memiliki masalah dengan kemampuan berbicara
·      Kurangnya koordinasi, sering menjatuhkan benda-benda dan mengetuk benda berulang-ulang
·      Kemungkinan memiliki alergi
·      Kemungkinan memiliki penyakit yang berhubungan dengan stress
·      Kemungkinan terlihat sangat berbeda saat di sekolah dasar dibandingkan di tingkat pendidikan seblumnya

b.      Membaca
·      Tidak menguasai kemampuan membaca atau snagat terlambat menguasainya
·      Bila membaca untuk diri sendiri keras-keras, tetapi membuat banyak kesalahan
·      Bisa membaca cerita, tetapi kesulitan dengan pertanyaan ujian dan segala sesuatu yang berbau teknis
·      Bisa membaca dengan sempurna, tetapi tidak memahhami apa yang dibaca
·      Harus membaca ulang beberapa kali untuk mengerti apa yang dibaca
·      Kebingungan
·      Tidak suka membaca dan mencoba menghindari aktivitas membaca. Biasanaya kemampuan membaca diawali dengan cukup baik, tetapi semakin lama semakin menurun
·      Terbolak-balik membaca suku kata atau kata
·      Meniadakan, salah membaca, atau mengganti kata-kata penghubung seperti “di” dan “pada”
·      Bisa membaca satu kata dengan baik pada satu halaman, tetapi salah membaca kata yang sama pada halaman yang berbeda

c.       Tulisan tangan
·      Tulisan tangan mungkin tidak terbaca
·      Tulisan tangan hanya ditulis pelan-pelan dan tedapat bekas tekanan pada halaman buku (menulis dengan menekan bolpoin atau pensil)
·      Sulit merangkai huruf-huuf
·      Jarak anatakata huruf-huruf
·      Jarak antarkata tidak beraturan
·      Haruf-huruf ditulis secara tidak biasa untuk menyamarkan masalah ejaan
·      Proses menulis membuat stress dan terasa melelahkan


d.      Mengeja
·      Kata-kata dieja seperti bunyinya
·      Pengejaan yang aneh sehingga menghailkan kata-kata yang tidak jelas
·      Ada bagian kata yang diulang, contohnya ”kemamampuan” untuk kata kemampuan
·      Ada bagian kata yang terboolak-balik, contohnya” lagu” untuk kata “gula”
·      Kesalahan pada kata-kata yang pendek, contohnya “wang” untuk kata “uang”
·      Dapat mengeja kata yag dihafalkan untuk ujian, tetapi tidak bisa menuliska kata-kata tersebut

e.       Komposisi menulis
·      Penulisan tidak teratur dan merasa kebingungan selama proses menulis
·      Sulit memulai
·      Kalimat-kalimat terangkai dengan kacau
·      Bisa memahami apa yang ingin ditulis secara keseluruhan, tetapi sulit
     menyampaikannnya secara beuurutan
·      Pikiran terlalu cepat dibangdingkan dengan kemampuan menulis
·      Kata-kata pendek terlewatkan  atau salah digunakan
·      Sering mencoret
·      Tidak bisa melihat kesalahan
·      Merasa menulis adalah sesuatu yang membuat fustrasi dan sering kali
     menghindarinya jika memungkinkan
·      Merasa menulis adalah proses yang lamban. Kalupun tidak putus asa di awal, tulisan
     sering kali diulang

f.     Tanda baca
·      Tanda baca tidak digunakan sama sekali
·      Beberapa tanda baca digunakan, tetapi tidak dipahami artinya
·      Tidak mengerti kapan tanda baca harus digunakan meskipun sudah diberi tahu sebelumnya

g.    Matematika
·      Mungkin sangat pintar matematika
·      Mungkin merasa matematika sulit
·      Tidak memahami apa yang ditanya dalam soal matematika
·      Tidak bisa mengikuti langkah pengerjaan, contohnya perkalian panjang
·      Kesulitan memahami petunjuk, contohnya tidak memahami bahwa penjumlahan, pembagian, atau perkalian harus dimulai dari kanan ke kiri
·      Merasa kebingungan dengan simbol-simbol matematika
·      Kesulitan mempelajari table perkalian
-mengalami masalah dengan penempatan nilai (ratusan, puluhan, dan satuan)
·      Membolak balik angka.
·      Membuat banyak kesalahan kecil.
·      Mengalami kesulitan melengkapi penjumlahan yang hasilnya sudah diketahui, contohnya 2 + … = 3
·      Dapat menemukan jawaban tapi tidak bias menunjukan bagaimana langkah kerja untuk mendapatkan jawaban tersebut.

h.   Bakat
·      Sering kali memiliki keterampilan interpersonal yang luar biasa.
·      Bia jadi ahli dalam memecahkan masalah.
·      Dapat berpikir secara 3 dimensi, yang memungkinkan berkembangnya bakat di bidang desain, komputerisasi, dan seni peran.
·      Bisa jadi ahli di bidang olahraga.
·      Bisa jadi ahli di bidang seni, terutama seni 3 dimensi.
·      Sering kali sangat intuitif.
·      Memiliki keingintahuan yang tinggi tentang carabkerja sesuatu.
·      Sangat memperhatikan lingkungan dan memperhatikan detail.
·      Berpikir secara harfiah.
·      Berpikir secara menyeluruh.
·      Biasanya sangat pandai bermain lego saat masih kanak-kanak.


C.    TIPE DISLEKSIA
Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.

D.    FAKTOR PENYEBAB DISLEKSIA
Penyebab disleksia hingga kini masih belum dapat dipahami dengan baik, karena itu juga para neurolog kesulitan untuk menegakkan definisi yang didasarkan pada gangguan fungsi neurologis. Sehingga definisi yang diletakkan adalah bahwa seorang anak dapat dikatakan menyandang disleksia jika terdapat perbedaan yang signifikan antara prestasi yang diperoleh dan kapasitas yang dimiliki. Jika hanya melihat definisi ini saja, maka kita juga akan terjebak pada anak-anak yang mengalami prestasi rendah. Untuk mengatasinya, maka para neurolog juga sudah meletakkan batasan, bahwa disleksia hanya bisa terjadi andaikan anak-anak tersebut juga mengalami gangguan neurologis yang dapat menyebabkan gangguan pada satu atau lebih area inteligensia, namun keadaan disleksia ini juga hanya dikenakan pada anak-anak dengan inteligensia normal sampai tinggi. Pada anak yang mempunyai inteligensia rendah tidak disebut anak yang mengalami learning disabilities, tetapi anak yang mengalami multihandycap.
Beberapa hal gangguan fungsi neurologis yang dapat menyebabkan gangguan fungsi inteligensia pada dasarnya dilakukan pengamatan pada gejala-gejala yang ditimbulkannya, menurut Aldenkamp dkk, dapat dibagi menjadi:
-          Gangguan pada tempo urutan unit bahasa, yaitu gangguan pada pencandraan dan mengingat urutan huruf, suku kata, dan bunyian;
-          Gangguan pada diskriminasi auditif, yaitu pada membedakan bunyian;
-          Gangguan pada seleksi pencandraan/ seleksi perhatian, yaitu membedakan mana latar belakang dan mana yang menjadi figur utama;
-          Gangguan pada visuo-spatial oraganisasi, misalnya kiri kanan, orientasi ruang;
-          Gangguan pada pengenalan melalui pancaindra taktil, yaitu pengenalan figur melalui perabaan.

E.     PENDAMPINGAN DISLEKSIA
Mengidentifikasi dan Menilai Disleksia Di Kelas
            Sebagai guru, sangatlah penting memastikan para peserta didik tidak memiliki disleksia. Untuk itu, guru perlu melakukan identifikasi dan penilaian. Sebab, dengan melakuakn pengamatan para praktisi dapat megumpulkan bukti-bukti yang berhubungan dengan maalah keulitan membaca, menulis, atau mengeja agar bisa mendapatkan saran dan bimbingan dari Koordinatr ABK.
            Di dalam pedoman ABK, dijelaskan bahwa anak yang menunjukkan kesulitan belajar khusus, seperti disleksia membutuhkan program khusus utuk membantu perkembangan kognitif dan pembelajaran. Guru harus menjalin hubungan yang dekat dengan peserta didik dan peduli terhadap kemampuan membaca, menulis, mengeja, serta senantiasa mengumpulkan bukti-bukti untuk menganalisis gangguan belajar para siswa. Pemberian kesempatan belajar tambahan perlu dilaksanakan untuk memajukan kemampuan belajar siswa. Apabila tidak banyak hal yang dapat dikatakan berhasil melalui tambahan belajar tersebut, guru dapat membuat rencana kegiatan belajar dengan melibatkan peralatan spesialis serta dukungan yang akan diberikan kepada siswa untuk memupuk kebutuhannya. Guru juga dapat mengambil keputusan bersama orang tua murid untuk menentukan apakah siswa tertentu membutuhkan spesialis dari luar untuk mengukur kemajuan anak.
            Oleh karena itu, menurut Gavin Reid, penilaian disleksia hendaknya mempertimbangkan tiga aspek berikut ini:
1.      Kesulitan
Sangat jelas bahwa anak disleksia cenderung memiliki kesulitan dalam menyusun dan menguraikan tulisan. Kelsulitan ini mungkin terjadi akibat gangguan-gangguan dalam:
a.       memperoleh pengetahuan fonologi
b.      memori
c.       mengorganisasi dan mengurutkan
d.      pergerakan dan koordinasi
e.       masalah bahasa
2.      Ketidaksesuaian
Ketidaksesuaian akan terungkap saat anak membaca/ mendengarkan untuk memperoleh informasi dan saat mempelaari bebagai bidang ilmu dalam kurikulum yang berlaku. Ketidaksesuaian tersebut terlihat antara kemampuan oral dan tertulis anak.
3.      Perbedaan
Harus diingat bahwa tidak semua anak disleksia memiliki malaah yang sama. Dengan pemahaman ini, proses identifikasi harus mempertimbangkan hal-hal berikut:
a.       gaya belajar
b.      lingungan ag dipilih utnuk belajar
c.       strategi belajar

Pendampingan Untuk Anak Disleksia
Pendampingan untuk anak disleksia bisa dilihat dari beberapa sisi, antara lain :
1.      Manajemen kelas
Kesadaran akan metode pengajaran dan pendekatan praktis yang spesifik untuk anak-anak disleksia penting untuk dimiliki guru kelas. Berikut adalah beberapa cara pendampingan untuk menjalankan kelas yang inklusif dan efektif, yaitu :
a.       Saat memberikan instruksi pada anak disleksia, berikan hanya satu instruksi pada satu waktu agar anak dapat memproses informasi secara eektif.
b.      Manfaatkanlah teknologi informasi dengan menggunakan perangkat lunak pengenal suara.
c.       Berikan tambahan waktu kepada anak disleksia untuk menyelesaikan tugas membaca/menulis jika diperlukan.
d.      Saat mengajar, gunakan pendekatan visual dan kinestetik untuk memfasilitasi proses belajar anak.
e.       Berkomunikasi dengan coordinator ABK dan asisten pengajar secara berkala untuk memastikan pendekatan yang konsisten diberikan kepada anak disleksia.
f.       Hindari munculnya pengalih perhatian di kelas karena anak disleksia sulit berkonsentrasi di kelas.
2.      Tips top untuk guru
Selain memiliki kesulitan mengingat lebih dari satu instruksi pada satu waktu, anak disleksia juga kesulitan mempertahankan lebih dari satu ingatan dalam memorinya. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mengajar anak disleksia, antara lain :
a.       Saat merencanakan tugas, bagi tugas menjadi beberapa bagian yang lebih sederhana.
b.      Pastikan bahwa tugas terstruktur dan tersusun jelas untuk membantu pengaturan belajar.
c.       Buatlah daftar mengenai apa yang diharapkan dari anak disleksia di awal dan di akhir tugas.
3.      Merencanakan pembelajaran
Daftar berikut dapat digunakan ketika akan membuat lembar kerja :
a.       Apakah ukuran huruf sudah cukup besar?
b.      Apakah ada terlalu banyak huruf dalam satu halaman?
c.       Apakah alat bantu visual dapat digunakan kapan pun dibutuhkan?
d.      Apakah semua kalimat yang tertera didukung dengan gambaran visual?
4.      Membaca dan memahami makna
Saat membantu anak disleksia membaca, hal-hal yang perlu ditanyakan pada diri mereka setelah sesi membaca :
a.       Apa yang bisa saya ingat dari buku ini?
b.      Bagian mana yang paling saya suka dari buku ini?
c.       Siapa karakter utama pada buku ini?
d.      Topik penting apa yang terdapat dalam buku ini?
e.       Pertanyaan apa yang ingin saya ajukan tentang buku ini?

PEMBAHASAN
DISGRAFIA
A.    DEFINISI DISGRAFIA
Disgrafia merupakan gangguan menulis. Masalah dalam pelajaran menulis sebenarnya tidak termasuk dalam kelompok masalah kognitif dalam belajar sebagaimana dalam masalah gangguan belajar membaca bahasa dan berhitung. Dalam hal teknik menulis lebih banyak masalahnya disebabkan karena adanya gangguan fisiologis terutama pada gangguan sensorimotorik.


B.     KARAKTERISTIK DAN CIRI-CIRI DISGRAFIA
Karakteristik atau ciri-ciri disgrafia
·         Tidak konsisten dalam membuat bentuk huruf.
·         Penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur.
·         Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional.
·         Kesulitan dalam mengomunikasikan satu ide, pangetahuan, atau pemahamannya dalam bentuk tulisan.
·         Sulit memegang pensil dengan mantap. Biasanya posisi tangan hampir menempel dengan kertas.
·         Berbicara kepada diri sendiri ketika sedang menulis atau malah terlalu memperhatikan tangan yang dipakai untuk menulis
·         Cara menulis tidak konsisten dan tidak mengikuti alur.

C.    PENYEBAB DISGRAFIA
Gangguan menulis kebanyakan disebabkan karena gangguan motorik halus pada lengan, sendi tangan, dan jari-jari, juga gangguan pada pencandraan secara visual. Jika gangguannya terdapat di keduanya, maka gangguan itu menjadi gangguan pada koordinasi mata-tangan. Padahal koordinasi mata-tangan ini merupakan hal yang sangat esensial. Mata haruslah mengatur tangan untuk bekerja, menunjukkan jalan, sehinggan terjadilah kegiatan menulis dengan bentuk tertentu dan besar tertentu. Pada umumnya, anak-anak di masa prasekolah telah melakukan coret-coret dan menggambar. Pada fase ini perkembangan motorik belum berkembang betul untuk kegiatan dengan motorik halusnya seperti halnya pada kegiatan menulis.

D.    PENDAMPINGAN DISGRAFIA
Kategori Keterampilan Menulis
Pada kegiatan menulis ada beberapa keterampilan yang bisa dikategorikan:
1.      Cara menyanggah ibu jari. Telunjuk dan ibu jari dibutuhkan untuk menekan. Pena terletak pada jari tengah, antara ibu jari dan telunjuk. Si anak harus belajar merasakan bahwa ada tenaga antara ibu jari dan ujung jari-jari, dengan begitu ia bisa mengendalikan pena.
2.      Keluwesan sendi dan gerakan lengan yang arah datangnya dari pundak yang memengaruhi gerak selanjutnya. Sementara itu jika tangan tidak ikut bergerak, maka gerakan menulis juga terganggu.
3.      Kontinuitas menulis. Pada anak-anak dengan gangguan koordinasi  kontinuitas menulis ini sangat sulit dicapai. Karena ia mengalami gerak yang sangat cepat antara membaca dan menuliskannya kembali di kertas. Ia juga mengalami gangguan kecepatan menulis karena kesulitan dalam kontinuitas menulis. Keteraturan dan ritme menulis juga terganggu.
4.      Kekuatan tangan mana yang tak jelas. Setiap anak mempunyai perkembangan motorik masing-masing. Pada umumnya pada fase awal perkembangan seorang anak menunjukkan perkembangan kekuatan tangan yang sama antara kiri dan kanan. Jika pada usia enam atau tujuh tahun terjadi perkembangan yang tidak normal maka gerakan motorik akan sulit. Ia akan tidak mengerti tangan mana yang harus memegang pena. Ia juga tidak mengerti harus menulis dari kiri atau kanan. Begitu juga arah dari huruf-huruf atau angka-angka, misalnya angka 6 atau 9, huruf  b atau d.
5.      Menulis dengan tangan kiri. Kebanyakan metode menulis adalah mengguanakan metode tangan kanan. Tapi sekarang orang mulai memperhitungkan juga anak-anak yang menulis dengan tangan kiri. Pena juga ada yang didesain untuk anak yang menulis dengan tangan kiri. Kadang ada juda anak yang menggunakan tangan kiri dan juga sekaligus tangan kanan. Kondisi ini disebut ambidextrisitas.
Pendampingan Untuk Anak Disgrafia
1.      Pahami keadaan anak
Upayakan untuk tidak membandingkan anak yang mengalami gangguan ini dengan anak lain yang normal. Membanding-bandingkannya hanya akan membuat anak merasa stres dan frustasi.

2.      Menyajikan tulisan cetak
Berikan kesempatan kepada anak untuk belajar menuangkan ide-idenya dengan menggunakan media komputer. Penggunaan komputer memungkinakan anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar dia mengetahui kesalahannya secara langsung.
3.      Bangun rasa percaya diri anak
Berilah pujian pada saat yang tepat dan wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Selain itu, jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan hal-hal yang sedang dilakukan anak karena itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustasi. Jika ini yang terjadi, akan terjadi kontradiksi dengan upaya penanggulangan hambatannya dan ini akan sulit kembali membangun rasa percaya diri anak.
4.         Latih anak terus menulis
Upayakan setiap peristwa menjadi saat-saat latihan bagi anak untuk menulis. Berikan tugas-tugas yang menarik, seperti: menulis surat untuk teman, untuk orang tua, menulis dalam selembar kartu pos, dan yang sejenisnya. Upaya-upaya ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menunangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan nyata.

LAPORAN HASIL OBSERVASI
Kelompok kami telah melakukan observasi dan wawancara di Sekolah Luar Biasa (SLB) Yapenas Unit II Pringwulung, Sleman, Yogyakarta. Kami melakukan obseravasi dan wawancara sebanyak 2 kali yaitu pada tanggal 21 Februari 2015 untuk mengadakan wawancara kepada guru kelas, dan tanggal 26 Februari 2015 untuk mengadakan observasi kepada anak yang mengalami gangguan disleksia dan disgrafia. Observasi kami pada anak yang mengalami gangguan disleksia dan disgrafia yaitu dengan melihat perilaku anak tersebut dalam bersosialisasi dengan teman-temannya dan meminta anak tersebut untuk menuliskan abjad dari A – Z, yang sebelumnya kami telah meminta izin dengan guru kelas mereka. Kami meminta 3 anak yang terdiri dari 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki untuk menulisakan huruf A – Z.
            Hari pertama kami mewawancarai guru kelas, beliau mengatakan bahwa kesulitan anak disleksia dan disgrafia yaitu kesulitan untuk berbicara terutama ketika membaca dan kesulitan mengenal dan membedakan huruf, seperti huruf b, d, dan p. Kami juga bertanya kepada narasumber kami tentang bagaimana pengajaran di kelas keadaan anak disleksia disgrafia. Beliau mengatakan bahwa setiap anak itu mempunyai watak dan kemampuan yang berbeda, jadi proses kegiatan belajar mengajar di kelas dilakukan secara individual. Guru membutuhkan media yang menarik yang menuntut kekreativitasan guru. Mereka disuguhi dengan berbagai huruf-huruf yang menarik atau kartu huruf dengan gambar, tujuannya agar perhatian anak tetap tidak mudah teralihkan, karena anak disleksia dan disgrafia itu sendiri perhatiannya mudah teralihkan, konsentrasi tidak memusat dan sangat sensitif dengan keributan.
Selain itu juga anak disleksia disgrafia mudah lupa, jadi dibutuhkan kesabaran yang ekstra dalam mengajari anak disleksia disgrafia. Tetapi keunikan anak disleksia disgrafia mudah memaafkan karena mudah lupa pada apa yang dilakukan temannya. Anak-anak di SLB ini tidak mengenal sistem tinggal kelas, jadi mereka selalu naik kelas, dan kesulitan guru ketika mengajari anak disleksia disgrafia setelah liburan sekolah yaitu hampir semua materi pembelajaran yang diajarkan di kelas sebelumnya sudah tidak ada yang diingat oleh anak tersebut. Narasumber kami mengatakan bahwa konsentrasi anak disleksia disgrafia paling lama 2 jam, jadi setelah 2 jam itu anak-anak sudah bosan dan biasanya guru mengisi kegiatan belajar mengajar dengan menggambar dan menyanyi atau bermain.
Kami juga melakukan observasi perilaku anak disleksia dan disgrafia ketika mereka sedang makan bersama. Secara fisik, anak disleksia dan disgrafia tidak memiliki perbedaan dengan anak normal pada umunya, hanya saja anak-anak disleksia lebih pendiam dan menyendiri. Ketika kelas sudah masuk, kami meminta anak tersebut untuk menuliskan huruf A – Z dengan bantuan kami menyuarakan huruf tersebut dan anak menulisnya. Ketika sampai pada huruf d, m, dan n anak merasa kebingungan menuliskan, maka kami meminta anak itu untuk menuliskan sebisanya. Apa yang dikatakan oleh narasumber kami itu benar bahwa anak disleksia disgrafia sangat sulit untuk mengenal dan membedakan huruf-huruf yang hampir sama. Ada juga salah satu anak yang kami minta untuk membaca m-a-t-a namun anak tersebut membacanya meba.


BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Disleksia adalah kondisi ketika perbedaan kerja otak yang membuat seorang individu dengan disleksia memproses informasi yang ditrerima dari otak dengan cara yang berbeda. Dislesia disebabkan oleh gangguan fungsi neurologis. Sedangkan, disgrafia adalah gangguan menulis yang biasanya diebabkan karena gangguan motoik halus pada lengan, sendi tangan dan jari-jari, juga gangguan pada pencandraan secara visual.
Anak yang mengalami disleksia memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak yang tidak mengalami gangguan dislkesia, antara lain dalam hal perilaku, membaca, tulisan tangan, mengeja, komposisi menulis, tanda baca, matematika, dan bakat. Sementara untuk anak yang mengalami gangguan disgrafia memilik karakteristik yang meliputi tidak konsisten dalam membuat bentuk huruf, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur, dll. Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia dan acquired dyslexsia.
Pendampingan untuk anak disleksia adalah dengan cara Manajemen kelas, tips top untuk guru, merencanakan pembelajaran, membaca dan memahami makna. Pendampingan untuk anak disgrafia adalah dengan memahami keadaan anak, menyajikan tulisan cetak, membangun rasa percaya diri anak, dan melatih anak terus menulis.



DAFTAR PUSTAKA
Monks, F.J dan A.M.P Knoers.Psikologi Perkembangan. 2006. Yogyakarta:
       Gadjah Mada University Press.
Thompson, Jenny. 2012. Memahami Anak Berkebutuhan Khusus. Jakarta:  
       Erlanga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar